Menjaga Ruh Sang Kyai dalam Pelangi Pengabdian: Catatan Khidmat Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya
Menjaga Ruh Sang Kyai dalam Pelangi Pengabdian: Catatan Khidmat Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya
BAWANG, BATANG — Angin pegunungan di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, membawa serta aroma kerinduan dan keberkahan. Di balik riuh dan sejuknya suasana Komplek Pondok Pesantren Al-Ikhlas, ratusan pasang mata dan hati menyatu dalam satu simfoni penghormatan: memperingati Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya.
Sejak Kamis, 30 Juli 2026, halaman dan sudut-sudut pesantren telah dihidupkan oleh bait-bait doa. Rangkaian acara dibuka dengan khusyuknya tahlil para santri, anak-anak TPQ, PAUD, hingga TK Islam di pusara sang ulama. Hari-hari berikutnya bergulir bak untaian tasbih yang tak putus: pembacaan Manaqib Ibu Bella TQN, alunan khataman Al-Qur'an yang dipandegani Nyai Khafidhoh Parakan Temanggung Jawa Tengah , hingga lantunan Yasin Fadhilah serta Mujahadah yang memecah heningnya malam.
Puncaknya, pada Ahad legi, 2 Agustus 2026, majelis pengajian umum dan temu alumni digelar. Halaman komplek PP. Al-Ikhlas seolah tak menampung kerinduan para jamaah dan alumni yang hadir dari berbagai penjuru. Suasana kian membumbung hangat saat grup hadroh "Ngudi Syafa'at" — di bawah pimpinan salah satu alumni — melantunkan shalawat penuh kerinduan kepada Nabi.
Wejangan Pembuka Jiwa: Menjelajah Jalur Takdir yang Berbeda
Di atas mimbar,KH. Syukri Maulana dari Blado, Batang, menyampaikan wejangan yang meresap dalam ke sanubari para hadirin. Beliau menegaskan sebuah hakikat mendalam tentang estafet perjuangan seorang ulama.
"Dalam perjuangan, anak seorang kyai tidak harus selalu menjadi kyai di atas panggung pesantren. Namun yang terpenting adalah bagaimana ia mampu melanjutkan ruh perjuangan itu melalui bidang dan profesi yang ia tekuni," tutur Kyai Syukri penuh makna.
Pesan muballig yang terkenal humoris tersebut seakan menjadi cermin nyata bagi perjalanan hidup putra-putri Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya. Uniknya, meski hampir seluruh dzurriyat merupakan alumni kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta matang digembleng di berbagai pesantren salaf — bahkan mendalam dalam penguasaan kitab kuning — mereka memilih memancarkan keilmuan tersebut sesuai dengan passion dan ranah pengabdian masing-masing . Almagfurlah Kyai Mastur Allohu yarham meninggalkan putra - putri 8 orang yaitu :
- DR (HC) KH. RT. Isqowi Indaddien Masya, S.Ag., M.M. ( Gus Isqowi ) — Berbekal gemblengan Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak dan PP. Nurul Ummah Yogyakarta, beliau kini menjadi Arsitek Gerakan Keummatan sekaligus Founder Rumah Dai yang aktif menabur syiar Islam hingga ke mancanegara dan saat ini berdomisili di Tangerang Selatan.
- Meninggal belum sempat diberi nama.
- KH. RT. Moch Suhaely, S.Ag. (Gus Hely) — Alumni PP. Nurul Ummah Yogyakarta yang memilih setia menyalakan pelita pesantren pengasuh PP. Al-Ikhlas Bawang serta aktif menghidupkan LDTQN di Kabupaten Batang.
- M. Ali Ridho Masya ( Gus Ridho ) — Saat ini bertempat tinggal di Ciputat Tangerang Selatan dan mengabdikan dirinya secara profesional di Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.
- Wahab Sonil Aroba ( Meninggal usia 3 bulan )
- H. Khomsurrijal Wahibudiyak, S.Ag. (Gus Khomsurrijal) — Santri jebolan PP. Futuhiyyah Mranggen Demak dan PP. Wahid Hasyim Condongcatur Yogyakarta ini menerjunkan keilmuannya di dunia literasi dan jurnalistik sebagai Pemimpin Redaksi surat kabar nasional. Pria yang sering membranding tokoh nasional ini aktif sebagai Staf Khusus Utusan Presiden RI dan tinggal di Serpong Tangerang Selatan.
- M. Awan Jundan Masya, S.Ag. (Gus Jundan) — Alumni PP. Darul Amanah Sukorejo Kendal yang membawa nilai-nilai kejujuran santri ke dalam dunia entrepreneur dan membuka Retail Spot pakaian serta kantor pelayanan jemaah Haji & Umrah Firdaus Mulia Abadi di Kota Solo Jawa Tengah.
- Nyimas Setyo Intahaina Fil Fitriyati ( Neng Inta ) — Alumni Ponpes Mambaul Falah Sampangan/Wali Sampang Pekalongan . Srikandi keluarga yang merawat kearifan lokal dengan meneruskan warisan sang ibu sebagai owner Jamu Bu Mangun, pengusaha ramuan jamu dan herbal yang terpandang di komunitas kesehatan tradisional.
Perjumpaan Tokoh dan Untaian Doa Kebahagiaan
Kehangatan haul kali ini kian terasa istimewa dengan hadirnya tokoh ulama dari ujung barat Pulau Jawa. Dr. (C) KH. Munawwir, S.H., M.Pd., Pengasuh Pesantren Nafidatunnajah Bogor yang kini mengemban amanah sebagai Ketua FORMULA (Forum Ulama dan Aktifis Islam) Provinsi Banten, hadir memberikan keteladanan silaturahmi yang menembus batas wilayah.
Rangkaian sambutan berlangsung khidmat dan penuh rasa kekeluargaan. Mengawali sambutan disampaikan oleh Ketua Panitia, di lanjutkan sambutan dari Shohibul Bait atas nama dzurriyah Gus Isqowi yang menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran para jamaah. Di sela-sela sambutannya dengan kerendahan hati, Gus Isqowi memohon restu dan doa tulus dari para kiai dan jamaah untuk sang istri tercinta, yang dalam beberapa hari mendatang — Rabu, 5 Agustus 2026 — akan dikukuhkan sebagai Guru Besar / Profesor. Sebuah pencapaian akademik tertinggi yang diharapkan senantiasa membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi umat. Sedangkan sambutan terakhir dari Haji Asrofi yang mewakili Bapak Camat Sutarno, S.Ap karena berhalangan sedang diluar kota.
Penutup
Cahaya yang Tak Pernah Padam Haul Ke-30 Al-Maghfurlah KH. Mastur Asya bukan sekadar peringatan atas berlalunya waktu, melainkan penegasan bahwa kedalaman keilmuan kitab kuning dan sanad pesantren akan selalu menemukan bentuk pengabdian terbaiknya. Cahaya itu terus berpendar—baik melalui bait-bait kitab di pesantren, kebijakan birokrasi, penegakan integritas, goresan berita media, perniagaan yang amanah, kearifan obat herbal, hingga panggung dakwah internasional dan mimbar akademis perguruan tinggi.
Acara ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kehangatan di dada para alumni dan warga Bawang bahwa ilmu yang bersumber dari keikhlasan sang guru akan terus mengalir, bersemi, dan memberi manfaat di mana pun ia ditempatkan.