Memoar perjalanan Prof. Hasani dari anak kampung Cilegon hingga menjadi Guru Besar
Artikel Umum Islami

Memoar perjalanan Prof. Hasani dari anak kampung Cilegon hingga menjadi Guru Besar

July 09, 2026 5 min read
CMS Profile
Published on July 09, 2026
Last updated: Jul 09, 2026
Memoar perjalanan Prof. Hasani dari anak kampung Cilegon hingga menjadi Guru Besar

Memoar perjalanan Prof. Hasani dari anak kampung Cilegon hingga menjadi Guru Besar

" Sebuah catatan kado terindah buat Prof. Hasani "

Dari Cilegon ke Puncak Akademik: Jejak Keteguhan Prof. Hasani

Takdir sering kali bekerja dalam senyap, membawa seseorang dari sudut kampung halaman menembus batas-batas yang semula terasa mustahil. Itulah gambaran nyata perjalanan Prof. Hasani menuju puncak tertinggi dunia akademik. Lahir di Cilegon, ujung barat Jawa — sebuah tanah yang mempertemukan karakter pesisir yang keras dengan napas religiusitas yang kuat — ia melangkah ke Ibu Kota tanpa modal materi, melainkan sebuah "pusaka" yang hidup di dalam dadanya: hafalan ayat-ayat Al-Qur'an. 

Cahaya ilmu dan kecintaan mendalam pada esensi wahyu menjadi kompas di tengah kerasnya perantauan. Meski jalan yang dilalui penuh liku dan peluh, ia pantang berbalik arah. Ketekunan itu mulai membuahkan hasil emas ketika ia meraih predikat Doktor Terbaik di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2011. Puncaknya, melalui Keputusan Menteri Agama (KMA), ia dijadwalkan akan resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 13 Juli 2026 mendatang. 

Catatan Kenangan dari Seorang Sahabat 

Saat kabar mengenai pengukuhan gelar Guru Besar ini sampai ke telinga saya, ada rasa haru dan bangga yang membuncah di dalam dada. Sebagai seorang sahabat yang menyaksikan sendiri bagaimana setiap jengkal prosesnya dirajut dengan air mata, doa, dan konsistensi, pencapaian ini terasa begitu layak. Gelar tertinggi ini bukan sekadar validasi formal, melainkan sebuah bukti nyata bahwa keikhlasan dalam merawat ilmu akan selalu berbuah manis pada waktunya. Seketika, memori saya melompat jauh ke belakang, ke sebuah momen yang menjadi titik awal segalanya. Ingatan saya mendadak kembali pada riuh rendah acara pelantikan ORDA ICMI Tangerang Selatan kala itu — yang dinakhodai oleh Drs. H. Benyamin Davnie (sosok yang kini mengemban amanah sebagai Wali Kota Tangsel). Di tengah keramaian acara itulah, takdir mempertemukan saya untuk pertama kalinya dengan Prof. Hasani. Masih lekat dalam ingatan bagaimana pertemuan perdana itu langsung menghadirkan rasa takzim yang mendalam, sekaligus memercikkan getaran persaudaraan yang seketika lahir begitu saja.

Waktu terus berjalan , satu ketika saya mengajaknya untuk memperkuat  RUMAH DAI — sebuah lembaga dakwah kemanusiaan yang sunyi dari publikasi namun penuh arti, yang bahkan telah mendelegasikan para dainya ke luar negeri sejak tahun 2014. 

Kenangan demi kenangan kemudian terpahat. Saya teringat sebuah perjalanan ke Bogor saat kami berada di mobil yang sama menghadiri kongres nasional para aktifis kemasjidan di  Darmawan Park Sentul, Bogor, Jawa Barat . Disana berkumpul para pegiat masjid dari berbagai propinsi . Perjalanan hari  itu rupanya menjadi saksi sejarah, karena di sanalah embrio gerakan kemasjidan bernama KMP (Kolaborasi Masjid Pemberdaya) dilahirkansebuah gerakan yang hari ini, alhamdulillah, sayapnya telah mengepak luas membentuk cabang di berbagai provinsi. Qodarullah , gerakan itu berawal dari usulan saya dan Ust Taufiq dari bekasi yang akhirnya di amini oleh para peserta.  Saya , Prof Hasani dan beberapa tokoh kemasjidan sepakat membidani lahirnya KMP ( Kolaborasi Masjid Pemberdaya ). 

Mihrab yang Menemukan Penjaganya

Waktu terus bergulir, membawa kami pada sebuah titik balik pengabdian di tubuh IPIM (Ittihad Persaudaraan Imam Masjid) Kota Tangerang Selatan. Saya harus jujur pada diri sendiri dan meluruhkan ego: passion dan separuh jiwa saya lebih berdenyut sebagai seorang mubalig yang berkeliling mengetuk hati umat, ketimbang menjadi seorang Imam. Menjadi Ketua Organisasi Imam Masjid bagi saya terasa lebih berat dibandingkan memimpin organisasi para dai.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, organisasi para imam membutuhkan sosok muda dan enerjik seperti Prof. Hasani. Setelah mengawal perjalanan institusi ini sejak era kepemimpinan almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, M.A., kemudian Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, M.A., hingga kini di bawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., saya merasakan bahwa kini telah tiba waktunya estafet kepemimpinan itu diserahkan kepada beliau.

Dengan rasa bangga yang membuncah dan haru yang sulit saya sembunyikan, saya memilih berdiri di sisi Prof. Hasani sebagai Sekretaris Pengurus Daerah IPIM Kota Tangerang Selatan. Saya ingin mendampingi putra terbaik asal Cilegon itu menakhodai pergerakan para penjaga kiblat umat, menghadirkan organisasi yang semakin kuat, bermartabat, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi para imam masjid serta masyarakat.

Di bawah kepemimpinannya, IPIM Tangsel menjelma menjadi simfoni pengabdian yang indah. Ia membina para penjaga mihrab dengan kelembutan, memperteguh kapasitas dakwah berbasis komunitas, dan mendorong agar rumah Allah kembali menjadi episentrum pemberdayaan umat. Gerakan membumi ini berjalan selaras dengan kepemimpinan wilayah Banten yang dipayungi oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Tholabi Kharlie, M.A. — seorang tokoh yang juga lahir dari rahim tanah kelahiran yang sama dengan Prof. Hasani.

Di sela-sela kesibukannya mengakar sebagai Syuriah PCNU Tangerang Selatan dan Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, tutur katanya yang santun, moderat, dan inklusif kini mengetuk jutaan pintu rumah di seluruh pelosok negeri. Melalui layar kaca TVRI, TV One, ANTV, hingga MNCTV, ia memeluk semua golongan dengan kedamaian yang menyejukkan.

Langkah kaki anak kampung ini pun kini telah meninggalkan jejak sunyi di atas tanah dunia. Melalui konferensi-konferensi internasional, ia melanglang buana dari Amerika Serikat, menyusuri jalur sutra di Uzbekistan, hingga menyapa Turki, Iran, Arab Saudi, Mesir, serta merambah Eropa dan Asia Tenggara. Namun, sejauh apa pun ia pergi membawa wajah Islam Indonesia ke panggung global, ia tetaplah Ust. Hasani yang saya kenal di satu ruang mobil yang sama — seorang sahabat, seorang guru, dan kini, seorang Guru Besar yang berjalan dengan kepala tertunduk, menghamba pada al-Qur'an yang telah mengangkat derajatnya setinggi langit.

 

Tentang Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.

Tags

#dakwah inspiratif

Related Articles

HIDUP BERSAMA ALLAH
Artikel Umum Islami Apr 21, 2026

HIDUP BERSAMA ALLAH

Gus Isqowi adalah seorang maestro muhasabah yang menghadirkan ketenangan hati. Undang untuk acara dz...

Read More →
Chat with us on WhatsApp