Dari Sebuah Telepon  hingga Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi yang Kini Menjadi Menteri
Kehidupan Muslim

Dari Sebuah Telepon hingga Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi yang Kini Menjadi Menteri

August 16, 2026 9 min read
CMS Profile
Published on August 16, 2026
Last updated: Aug 18, 2026
Dari Sebuah Telepon  hingga Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi yang Kini Menjadi Menteri

Dari Sebuah Telepon hingga Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi yang Kini Menjadi Menteri

Bermula dari sebuah telepon hingga pertemuan dengan Mentri PPPA

Sebuah Telepon Bunda Fathimah, Panggung Hong Kong, dan Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi yang Kini Menjadi Menteri

 

Awal April 2019.

Saya masih mengingat sebuah telepon yang datang pada waktu itu. Di seberang sana terdengar suara yang sudah tidak asing lagi.

“Gus, saya sudah di Jakarta. Kalau ada waktu, temani saya, ya."

Yang menelepon adalah Hj. Fathimah Angelia, Ketua PCI Muslimat NU Hong Kong-Macau, yang sejak pertama kali mengenalnya lebih akrab saya panggil Bunda Fathimah.

Sejak 2013, ketika saya pertama kali berdakwah di Hong Kong, hubungan kami memang sudah terjalin. Setiap kali Bunda Fathimah berada di Indonesia, hampir selalu ada kabar kepada saya. Kadang beliau meminta saya menemaninya menemui tokoh-tokoh NU sekaligus mengunjungi sejumlah tempat, dan saya mengajak tim RUMAH DAI atau istri untuk membersamai perjalanan beliau.

Begitulah persahabatan itu tumbuh. Tidak melalui perjanjian yang rumit, tetapi melalui perjumpaan-perjumpaan kecil yang terus berulang.

Maka ketika telepon itu masuk, saya pun segera bersiap.

Bunda Fathimah sedang berada di kediaman Kang Sastro Al - Ngatawi , budayawan Nahdlatul Ulama yang dikenal sebagai salah satu tokoh kebudayaan Islam dan pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur.

Rumah Kang Sastro berada tidak terlalu jauh dari rumah saya sehingga tidak sampai dua puluh menit perjalanan, saya sudah tiba.

Di sana saya mendapati Bunda Fathimah bersama Kang Sastro dan istrinya, Mbak Arifah Fauzi.

Pertemuan itu langsung terasa akrab.

Barangkali karena kami memiliki satu simpul yang sama: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang kini menjadi UIN Sunan Kalijaga.

Almamater kadang seperti sebuah rumah yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan. Bertahun-tahun tidak bertemu, tetapi ketika menemukan sesama alumni, percakapan dapat mengalir begitu saja.

Kami berbincang panjang. Tentang dakwah, NU, perjalanan ke luar negeri, para tokoh, dan tentu saja tentang Indonesia.

Esok harinya saya berjanji menemani Bunda Fathimah berkeliling Jakarta. Salah satu agendanya adalah bertemu KH Ma'ruf Amin.

Saat itu suasana politik Indonesia sedang menghangat. Pilpres 2019 tinggal beberapa pekan lagi. KH Ma'ruf Amin menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo.

Kami tidak sedang membayangkan bagaimana sejarah akan berakhir. Kami hanya sedang menjalankan silaturahmi.

Namun waktu kemudian mencatat: pasangan Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin akhirnya terpilih memimpin Indonesia.

                                                                                                     ***

 

Beberapa pekan kemudian, tepatnya 6 Mei 2019, saya bersama tim RUMAH DAI berangkat ke Hong Kong untuk melakukan lawatan dakwah selama kurang lebih dua minggu.

Hari pertama tiba di Hong Kong, Allah kembali mempertemukan saya dengan Kang Sastro.

Kali ini bukan di ruang tamu. 

Kami bertemu di atas panggung.

Saya tampil bersama Ki Ageng Ganjur, kelompok musik yang dipimpin Kang Sastro. Gamelan, alat musik modern, dan nuansa Timur Tengah berpadu menjadi satu. Di panggung itu hadir Kang Sastro, Mbak Arifah, Mel Shandy, dan saya.

Beberapa waktu sebelumnya kami berbincang di rumahnya yang terletak di perbatasan Depok dan Tangerang Selatan.

Kini kami berdiri bersama di sebuah panggung di Hong Kong.

Jarak ternyata tidak selalu memisahkan manusia. Kadang justru perjalanan jauh membuat sebuah persahabatan menemukan panggungnya sendiri. 

                                                                                                             ***

Waktu terus berjalan.

Saya dan Bunda Fathimah, istri dari mantan Ketua Tanfidziyah PCI NU pertama yang juga merupakan salah satu inisiator sekaligus pendiri NU di Hong Kong, tetap menjalin hubungan baik. Setiap kali beliau datang ke Indonesia, selalu ada saja kesempatan untuk kembali bersilaturahmi.

Sampai suatu ketika, Desember tahun lalu, telepon kembali datang secara mendadak.

“Gus, saya ingin silaturahmi ke rumah.”

Saya tentu menyambutnya dengan senang hati.

Rumah saya di kawasan Pondok Benda, Pamulang, kemudian menjadi tempat pertemuan yang sederhana. Saya membayangkan Bunda Fathimah akan datang sendiri atau bersama satu-dua orang.

Ternyata dugaan saya keliru.

Bunda Fathimah datang bersama beberapa sahabatnya. Ada beberapa pengurus PCI Muslimat NU Hong Kong-Macau, serta beberapa pengurus Masjid Wan Chai, Hong Kong, yang datang bersama pasangan masing-masing. Rumah yang biasanya tenang seketika menjadi lebih hangat oleh suasana silaturahmi. Percakapan pun mengalir dari satu cerita ke cerita lain: tentang kehidupan Muslim di Hong Kong, kegiatan dakwah, masjid, Muslimat NU, hingga harapan agar hubungan antara Indonesia dan komunitas Muslim di Hong Kong semakin erat.

Saya kembali merasakan sesuatu yang sudah saya rasakan sejak 2013.

Dakwah ternyata tidak selalu berjalan melalui mimbar.

Kadang ia berjalan melalui sebuah rumah. 

Kadang melalui seorang sahabat yang datang mengetuk pintu.

Dan kadang melalui rombongan yang membawa kerinduan dari negeri yang jauh. 

                                                                                                                ***

Satu Panggung dengan Kang Sastro Al-Ngatawi

 

Ada satu percakapan di Hong Kong yang sampai sekarang masih tinggal dalam ingatan saya. Bunda Fathimah menyampaikan keinginannya agar kehadiran dai dari Indonesia tidak hanya datang sesekali, tetapi bisa lebih rutin menyapa masyarakat Muslim di sana.

“Gus, kalau bisa setiap bulan dikirim dai ke Hong Kong.”

Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa cukup dalam. Mungkin karena saya tahu seperti apa kehidupan di kota itu. Di antara gedung-gedung yang menjulang, kereta yang bergerak tanpa henti, dan manusia yang seolah selalu dikejar waktu, ada saudara-saudara Muslim yang tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Mereka membutuhkan nasihat, penguatan, dan seseorang yang mengingatkan bahwa di tengah kesibukan mencari kehidupan, hati pun perlu diberi kesempatan untuk mengingat Allah.

Permintaan itu sekaligus mengingatkan saya pada perjalanan RUMAH DAI. Sejak 2014, kami telah berikhtiar mengirim dan mendelegasikan para dai ke sejumlah negara. Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang dai bisa hadir jauh dari tanah kelahirannya, menemui saudara-saudara sebangsa maupun sesama Muslim, lalu duduk bersama mereka, mendengarkan cerita, dan memberikan sedikit pencerahan.

Namun pandemi COVID-19 kemudian datang seperti pintu yang tiba-tiba tertutup. Perjalanan ke luar negeri terhenti. Banyak agenda dakwah yang sebelumnya berjalan harus ditunda. Setelah keadaan berangsur pulih, pintu itu memang kembali terbuka, tetapi untuk menghidupkan kembali perjalanan dakwah secara rutin ternyata tidak sesederhana membalik telapak tangan. Masih ada persoalan teknis yang harus disiapkan dan diselesaikan.

Karena itu, permintaan Bunda Fathimah saya simpan sebagai sebuah harapan sekaligus pengingat. Bukan sesuatu yang baru bagi kami, melainkan seperti suara yang mengetuk kembali pintu sebuah perjalanan yang pernah dimulai.

Barangkali masih ada jalan yang harus dipersiapkan.

Dan saya percaya, selama niat baik itu masih disimpan dalam hati dan ikhtiar tidak dihentikan, sebuah perjalanan tidak pernah benar-benar berakhir.

Ia hanya sedang menunggu waktu untuk kembali dimulai.

                                                                                                        ***

Beberapa tahun setelah perjumpaan di Hong Kong bersama Kang Sastro, kami kembali dipertemukan dalam kegiatan NU dan kemudian dalam forum IKASUKA — Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Salah satu pertemuan terjadi tanggal 15 Agustus 2026 kemaren di dalam acara Musda III IKASUKA

Namun kali ini, saya bertemu dengan Kang sastro dan Mbak Arifah dalam suasana yang sedikit berbeda.

Mbak Arifah Fauzi bukan lagi sekadar sosok yang dulu saya kenal dalam perjalanan dakwah dan kebudayaan bersama Kang Sastro.

Kini beliau telah dipercaya menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Prabowo.

Perjalanan waktu memang sering membuat kita terdiam sejenak.

Dulu kami bertemu dalam ruang-ruang kebudayaan dan dakwah.

Kini beliau berdiri sebagai seorang menteri dalam pemerintahan.

Tetapi ada hal yang tidak berubah: keakraban sebagai sesama alumni dan sahabat dalam perjalanan pengabdian.

Dalam pertemuan itu saya menyampaikan terima kasih kepada Mbak Arifah atas ucapan selamat yang beliau sampaikan untuk istri saya, Prof. Dr. Hj. Juhana, M.Pd., yang telah meraih guru besar.

Bahkan Mbak Arifah juga menawarkan agar istri saya bergabung dalam asosiasi profesor Muslimat NU.

Saya menerima perhatian itu sebagai sebuah bentuk persaudaraan yang indah.

Sebab jabatan boleh berubah.

Panggung kehidupan boleh berpindah.

Tetapi persahabatan yang dibangun dari ketulusan seharusnya tidak ikut berubah. 

                                                                                                                                  ***

Kalau saya menengok kembali perjalanan ini, rasanya seperti membaca halaman-halaman sebuah novel yang ditulis oleh waktu.

Sebuah telepon dari Bunda Fathimah Angelia.

Rumah Kang Sastro Al - Ngatawi.

Pertemuan dengan Mbak Arifah Fauzi.

Perjalanan menemui KH Ma'ruf Amin menjelang Pilpres 2019.

Panggung Ki Ageng Ganjur di Hong Kong.

Lawatan dakwah RUMAH DAI.

Rombongan PCI Muslimat NU Hong Kong-Macau dan pengurus Masjid Wan Chai yang tiba-tiba memenuhi rumah di Pondok Benda.

Lalu pertemuan kembali dengan Mbak Arifah dalam Musda III IKASUKA, ketika beliau telah menjadi Menteri PPPA di Kabinet Prabowo.

Semuanya seperti titik-titik yang terpisah.

Tetapi ketika kita tarik garisnya, ternyata membentuk satu cerita. 

Cerita tentang silaturahmi yang menyeberangi jarak.

Dari Pamulang ke Jakarta.

Dari Jakarta ke Hong Kong.

Dari rumah ke panggung.

Dari sahabat ke sahabat.

Dari alumni ke almamater.

Dan dari satu niat dakwah menuju cita-cita yang lebih besar.

Saya semakin percaya, dalam perjalanan hidup, tidak semua pertemuan hadir untuk segera menghasilkan sesuatu.

Ada pertemuan yang hanya memberi kita kenangan.

Ada yang membuka pintu persahabatan.

Ada yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan.

Dan ada pula pertemuan yang menanam sebuah cita-cita — seperti harapan Bunda Fathimah agar setiap bulan ada dai yang hadir di Hong Kong.

Cita-cita itu memang belum sampai ke tujuan. Tetapi benihnya sudah ditanam.

Tinggal menunggu waktu, ikhtiar, dan jalan yang Allah bukakan. Sebab barangkali begitulah hakikat silaturahmi.

Kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah pertemuan akan membawa kita. Kita hanya perlu datang dengan niat baik, menjaga persaudaraan, dan membiarkan Allah menuliskan kelanjutannya.

 

Penulis

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Penggagas Gerakan Pulang melalui Majlis Pulang. Mengembangkan Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual untuk mengajak manusia kembali kepada Allah

Tags

#partnerships

Related Articles

Chat with us on WhatsApp